Jumat, 31 Mei 2013

Guru dengan Lebih dari 5 Motivasi


Membuka mata, menyentuh hati dan merangkul jiwa. Itulah peran guru dalam rangka menempa masa depan bangsa ini. Pemerintah dan masyarakat juga sudah mulai menyadari hal ini, lalu memberikan apresiasi luar biasa terhadap para guru. Salah satu buktinya adalah kenaikan anggaran di bidang pendidikan. Berdasarkan laporan terbaru Education Public Expenditure Review dari Bank Dunia (World Bank) di bawah pola pembiayaan pendidikan di Indonesia saat ini, porsi anggaran yang cukup besar dialokasikan untuk membayar gaji guru serta membiayai program sertifikasi guru. Dengan fakta di atas, tak heran pula jika sekarang ini profesi guru tidak lagi dipandang sebelah mata dan semakin diminati.

Apakah semakin banyak, semakin diminati, dan semakin sejahtera berarti semakin baik? Tunggu dulu. Jawabannya tidaklah sesederhana itu. Kita memang tidak tinggal dalam dunia yang ideal. Seringkali apa yang kita damba jauh dari apa yang nyata. Namun, ada satu hal penting yang dapat mendorong dan mempengaruhi segala tindakan yang dilakukan oleh manusia. Itulah yang kita sebut dengan motivasi. Motivasi memainkan peran penting dalam membangun integritas dan kapabilitas profesi seseorang. Hal ini juga terkait dengan keadaan dan peran para guru. Motivasi yang tepat akan menjadikan seorang guru inspirator bagi murid-muridnya. Menurut Abraham Maslow dengan teori Heararkhi kebutuhan, ada lima hal atau lima lapisan yang menjadi dasar motivasi bagi setiap orang. Dasar motivasi tersebut juga dapat menjadi dasar motivasi para guru yang mempengaruhi integeritas dalam profesinya.

Lapis pertama adalah motivasi fisiologis. Biasanya motivasi ini hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, istirahat, bersenang-senang, bahkan tujuan seksualitas. Guru yang berada pada lapis ini adalah guru yang hanya ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya saja. Ia hanya berharap mendapat gaji untuk makan dan minum. Ia hanya berharap dapat bekerja dengan cukup santai. Bahkan parahnya, ada guru yang tega menyalurkan hasrat seksual saat menjalankan tugasnya sebagai guru. Tak heran jika kita menemukan ada oknum guru yang melakukan kasus kekerasan dan pelecehan terhadap murid. Tak salah memang jika ada guru yang berada pada lapis ini, karena motivasi adalah kebebasan bagi setiap individu. Namun, kita berharap bahwa guru-guru kita tidak terjebak pada lapis ini, karena lapis ini terlalu dangkal untuk sebuah profesi yang sejatinya bisa menggapai bintang.

Lapis kedua adalah motivasi rasa aman. Motivasi ini bertujuan untuk mendapatkan rasa aman baik secara fisik maupun secara emosional. Contoh guru yang masuk kedalam kategori ini adalah  mereka yang hanya berharap menjadi PNS agar  mendapat rasa aman di masa-masa selanjutnya dengan bergantung pada dana pensiun. Sebenarnya, yang perlu menjadi perhatian kita adalah maraknya kasus penyuapan untuk menjadi seorang PNS. Kasus ini harus dijauhkan sejauh mungkin dari para guru. Seperti yang kita ketahui guru mempunyai peran yang sangat besar untuk membentuk karakter bangsa. Jika dari awal guru sudah terbentuk dengan mental penyuap dan pembohong, bagaimana mental murid yang akan dibentuk nantinya? Kita setuju bahwa ketidak jujuran bukanlah sebuah inspiriasi yang mencerahkan, melainkan sebuah alat yang menuntun kita kepada kegelapan. Para guru harus sadar bahwa di depan murid terdapat suatu jalan membentang, yang penuh penghalang. Mereka harus membantu sang murid keluar dari comfortzone atau rasa aman. Seharusnya guru harus memulai dari dirinya dahulu sebelum mengarahkan para muridnya. 

Lapis ketiga adalah motivasi sosial. Motivasi ini bertujuan untuk mendapat penerimaan, status dan relasi. Tak sedikit orang yang menjadi guru hanya karena ingin mendapat status dan relasi. Terdapat beberapa kasus dimana seseorang terpaksa menjadi guru, hanya karena gagal atau tidak diterima dalam bidang lain. Istilah yang sering diberikan untuk kasus ini adalah ‘terpeleset’, karena kondisi tersebut membuat orang jatuh terpeleset sehingga guru menjadi pilihan terakhir. Ia pun tetap memperjuangkan profesi ini, sehingga ia bisa diterima dalam masyarakat luas. Memang tidak mudah menerima sesuatu yang berawal dari penolakan. Akan tetapi, seharusnya hal ini tidak membuat guru berhenti pada lapis ini. Menjadi guru bukan hanya sebuah status melainkan sebuah anugerah dan panggilan hidup. 

Lapis keempat adalah motivasi penghargaan. Motivasi ini bertujuan untuk mendapatkan penghargaan baik secara internal maupun eksternal. Bisa dibilang guru yang ada dilapis ini adalah guru yang penuh semangat dan kontribusinya dalam dunia pendidikan adalah nyata. Motivasi ini juga sedang bermekaran di Indonesia karena pemerintah sedang memberi pupuk stimulus yang disebut dengan sertifikasi.  Kesejahteraan guru terus pun terus ditingkatkan melalui tunjangan sertifikasi. Akan tetapi, program peningkatan kesejahteraan tersebut bisa menjadi bumerang. Hal ini membuat guru bukan semakin tinggi mengabdi tetapi malah materialistis. Ini berarti guru justru kembali ke lapis satu yaitu motivasi fisiologis. Jangan sampai program sertifikasi malah membuat guru terjebak dalam belenggu tersebut. Perlu diingat bahwa indikator keberhasilan guru adalah siswa. Sejauh ini program peningkatan kualitas guru terus dilakukan, tetapi belum terlihat adanya peningkatan kualitas murid secara signifikan. Keadaan ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para guru.  

Lapis kelima adalah motivasi aktualisasi diri. Motivasi ini bertujuan untuk mengekspresikan diri dan menggali potensi. Guru pada lapis ini bisa dibilang akan memberikan segala yang terbaik dalam rangka menunjukan dirinya. Baginya menjadi guru adalah cita-cita dan tujuan hidupnya. Ini adalah motivasi yang membuat guru menjadi tangguh dalam menghadapi segala rintangan ditengah arus zaman maupun sistem pendidikan yang cukup membingungkan. Motivasi ini yang mendorong para guru untuk terus berinovasi walaupun sering kali terbatas oleh kurikulum-kurikulum yang ada. Mereka juga tidak akan pernah berhenti menjadi murid, karena mereka akan terus belajar sekalipun menjadi seorang guru.

Motivasi-motivasi diatas telah mewakili berbagai motivasi guru. Namun, sebenarnya masih ada satu motivasi yang penting untuk dimiliki oleh semua guru. Motivasi ini begitu sederhana, menginspirasi, dan membuat seseorang akan terus berjuang dengan cara-cara yang positif. Motivasi inilah yang disebut dengan motivasi cinta. 

Saat ini adalah era globalisasi dimana segala sesuatunya dapat diakses dengan mudah melalui segala teknologi yang ada. Peran guru pun dengan mudah  tergeser dengan berbagai macam media dan fasilitas yang semakin maju. Para siswa bisa mendapat pengetahuan yang luas, mudah dan terbaru melalui internet dan gadget yang canggih. Akan tetapi, ada satu hal yang sebenarnya tak akan pernah bisa digantikan oleh  teknologi apa pun. Itulah sisi manusia dari seorang guru, manusia yang penuh cinta. Guru bukan hanya sekedar mesin fotocopi yang menyalin seluruh ilmunya kepada sang murid. 
Guru dengan motivasi cinta akan terus membangun rasa emosional dengan murid supaya murid semangat untuk terus belajar. Dunia sekarang ini adalah dunia yang jahat. Tingkat persaingan semakin tinggi. Masalah yang dihadapi para siswa bukan lagi hanya sebatas materi dalam textbook, melainkan perjuangan untuk melawan dunia yang jahat ini. Inilah salah satu peran guru yang tak dapat digantikan oleh berbagai macam teknologi yang ada. Disini guru diuji kemampuanya untuk terus mendorong para muridnya untuk terus maju. Ia harus terus menginspirasi para siswanya untuk mengubah dunia yang jahat ini menjadi tempat yang indah dan penuh kedamaian.

Guru yang penuh cinta tidak hanya mengajar dengan mulut tetapi dengan hati. Mereka tidak hanya berbicara panjang lebar di depan siswa menggunakan alat tulis. Mereka tidak hanya bangga dengan siswa-siwa yang mendapat nilai tinggi, disiplin belajar,  rapi, dan hafal semua materi yang ada. Walaupun Ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi merupakan ujian rumus dan materi, guru dengan motivasi cinta biasanya sadar bahwa  pusat pembelajaran tidak hanya ada di kepala manusia (brain memory). Bagi  mereka  memori tak hanya ada di kepala melainkan ada di jiwa dan seluruh tubuh manusia. Guru ini tidak hanya sekedar mengeajarkan soft skill dan hard skill, tetapi juga mengajarkan tentang life skill. Mereka  biasanya toleran dan  tahu benar bagaimana caranya menghadapi karakter murid yang berbeda-beda. Cinta selalu membuat mereka mengerti. Mereka tidak akan memaksa semua murid untuk jadi yang terbaik dengan kemampuan yang sama. Yang dilakukan oleh guru motivasi cinta adalah menemukan setiap perbedaan yang ada pada muridnya dan mengembangkan perbedaan itu menjadi potensi yang baru.

Contoh guru yang mengajar dengan motivasi cinta ada dalam film animasi kungfu panda. Saat itu Master Shifu sangat bingung untuk mengajari muridnya yaitu Po. Bahkan semua orang tidak yakin bahwa seorang panda gemuk dan gembul, bisa menjadi seorang pendekar dan menyelamatkan banyak orang. Kemampuannya pun jauh dibawah murid-muridnya yang lain. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Po si Panda hanyalah makan dan membuat mie. Akan tetapi, master Shifu masih terus mengingat perkataan gurunya yaitu Master Oogway yang masih membekas dalam hatinya. Master Oogaway berkata, “Tidak ada yang tidak mungkin. Kamu hanya harus percaya.”  Master Shifu  pun tidak berputus asa. Bahkan, akhirnya ia berhasil mengajari Po teknik kungfu dengan menggunakan teknik-teknik makan dan membuat mie. Cara yang unik, tetapi hasilnya luar biasa. Karena akhirya Po bisa menjadi Pendekar Naga dan mampu mengalahkan  Tai Lung sang penjahat yang kabur dari penjara.


Kita berharap bahwa setiap guru mempunyai jiwa seperti Master Oogway dan Master Shifu. Mereka tahu benar kekurangan dan kelebihan muridnya. Hal ini memudahkan mereka untuk menggali dan mengembangkan potensi sang murid. Guru motivasi cinta tidak hanya sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka. Pendidikan adalah sebuah seni. Seni untuk meyulut ide dan mengembangkannya. Semoga setiap guru penuh dengan motivasi cinta, sehingga mereka mampu menulis ilmu di papan tulis kehidupan dan tak akan bisa dihapus oleh waktu.

much love
Tiuruli Sitorus


Diikutkan dalam lomba menulis 'Sang Guru' yang diadakan oleh lembaga nirlaba Indonesia Menulis periode 31 Mei 2013

Kamis, 25 April 2013

Mau Dibawa Kemana Ujian Nasional?

 Sumber gambar: Koran FB

Saat menulis tulisan ini,  muncul wajah cemas menghiasi jutaan siswa kelas XII SMA dan IX SMP di seluruh Indonesia. Pertanyaan besar turut meresahkan hati. Akankah perjuangan mereka untuk ujian nasional tidak akan sia-sia? atau memang seharusnya ujian nasional ditiadakan?

Berangkat dari kecurigaan pemerintah terhadap para siswa. Ujian nasional yang ada dengan berbagai macam variasi soal, menujukan secara terang-terangan bahwa pemerintah menganggap semua siswa adalah maling. 'Maling teriak maling'. Statement tersebut yang pantas diberikan kepada pemerintah. Tidak berlebihan jika kita menyebut pemerintah juga adalah maling. Hal ini terbukti dengan banyaknya korupsi di negeri ini. Jika pemerintah tidak dapat memercayai siswa-siswinya, bagaimana  siswa-siswi tersebut dapat dipercaya untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

Selain itu terdapat sebuah paradoks. Pemerintah memaksa untuk menyelenggarakan ujian nasional di setiap daerah di Indonesia, padahal pemerintah sendiri belum mampu menyediakan pendidikan yang merata secara nasional di seluruh pelosok negeri ini. Aneh bukan? Pemerintah ingin ujian yang berstandar tetapi belum mampu menyediakan pendidikan yang standar pula.

Belum lagi ujian nasional memberi dampak secara psikis baik kepada siswa, guru, orang tua dan masyarakat. Saat negara memaksa ujian nasional untuk diimplementasikan sebenarnya pemerintah sedang melakukan kekerasan secara psikis. Mengapa demikian? Karena banyak siswa yang merasa terbeban dengan adanya ujian nasional, terlebih bagi mereka yang berada di daerah yang pendidikannya terbelakang. Bukan hanya terbeban karena materi yang dipelajari, melainkan juga rasa takut akan lembar jawab komputer yang disediakan. Ujian nasional telah menghilangkan esensi dari pendidikan. Karena para murid hanya semata-mata mengejar nilai dari pada ilmu. Terbuka peluang dimana para siswa akan menghalalkan segala cara untuk medapatkan nilai yang membanggakan. Ini adalah mindset yang perlu diubah. Seharusnya ilmu diletakkan jauh diatas nilai. Karena nilai hanyalah sebuah angka. 

Rasa takut juga menyelimuti para guru dan orang tua. Tidak heran jika terdapat beberapa kasus dimana siswa terlihat jelas menyontek tetapi pengawas hanya diam dan membiarkan hal itu terjadi. Karena ujian nasional berpengaruh besar pada kelulusan dan kelulusan sejalan pengaruhnya dengan image sekolah. Guru yang membiarkan kasus tersebut terjadi sebenarnya hanya ingin menyelamatkan siswa dan nama baik sekolah. Namun, kita sepakat bahwa itu bukanlah cara yang benar. Secara tidak langsung ujian nasional turut membentuk karakter bangsa ini. Sayangnya, karakter yang terbentuk adalah karakter penakut, pencuri, pembohong, dan tidak percaya diri.  
"Bagaimana kita yang tidak seragam ini dipaksa untuk diseragamkan"
Jika dipahami secara bijak, sebenarnya ujian nasional bukanlah indikator yang tepat untuk mengukur kemampuan siswa. Terdapat sebuah analogi yang dapat menggambarkan kondisi ini. Hal ini sama ketika terdapat sebuah kompetisi memanjat. Kompetisi tersebut diikuti oleh monyet, gajah, ikan, burung, dan harimau. Dapat dipastikan bahwa kompetisi memanjat bukan indikator yang pas untuk mengukur kemampuan dari masing-masing hewan tersebut karena masing-masing hewan memiliki kemampuannya yang berbeda-beda. Bagaimana kita yang tidak seragam ini dipaksa untuk seragam. Bagaimana mungkin siswa-siswi yang mempunyai talenta yang berbeda dipaksa untuk mengaplikasikanya dengan cara yang sama. Jelas, ini bukanlah bentuk dari sebuah keadilan.  Kecerdasan yang dimiliki setiap siswa adalah unik. Seharusnya kecerdasan itu dapat dikembangkan dengan cara yang unik pula.

Tujuan pendidikan nasional secara jelas tepampang dalam UUD 1945. "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa" Apakah Ujian nasional dapat dijadikan patokan untuk mencapai tujuan tersebut? Jawabannya tidak. Selain karena alasan-alasan yang telah diuraikan diatas, sebenarnya pemerintah juga belum mampu untuk menyelenggarakan ujian nasional. Hal ini terbukti dengan kacaunya ujian nasional 2013. Mulai dari soal dan lembar  yang kurang, kode yang tertukar hingga penundaan penyelengaraan ujian nasional di 11 provinsi di Indonesia. Ketika ujian nasional diselenggarakan tidak secara bersamaan di seluruh negeri, apakah masih bisa disebut dengan ujian nasional? Sepertinya lebih baik kita menyebutnya dengan ujian daerah.    Sebaiknya pula bila ujian nasional ditiadakan. Tahun ini dana yang dikucurkan untuk ujian nasional sekitar 500 M. Bisa dibayangkan berapa banyak anak yang bisa mendapat beasiswa. Berapa banyak sekolah yang dapat dibangun. Berapa banyak fasilitas yang dapat diberikan untuk menunjang pendidikan yang lebih berkualitas. Yang jelas jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit.

Menyedihkan, Sistem pendidikan di negeri ini hanya disusun berdasarkan idealisme dan mengabaikan realitas yang ada. Pertanyaan yang tepat selanjutnya bukan hanya "Mau dibawa kemana Ujian Nasional?", melainkan ""Mau dibawa kemana para generasi  penerus sekarang ini?



much love
Tiuruli Sitorus


Terinspirasi dari diskusi dengan Om Juwanto dan sahabat-sahabatku di YEC, Kamis 25 April 2013

Rabu, 13 Februari 2013

Golongan Putih di Pesta Rakyat



Bukannya aku tidak peduli, melainkan aku sudah mulai jenuh dengan pemberitaan-pemberitaan yang ada. Korupsi dan kemiskinan terus menjadi artis dipanggung negeri ini. Diskriminasi ras dan agama juga membuatku semakin tidak mengerti. Walaupun demikian, pesta rakyat yang akan diadakan 2014 mendatang tetaplah milik kita. Semua warga negara Indonesia pun berhak untuk terlibat dalam perayaan tersebut. 

Sepuluh partai telah terdaftar sebagai peserta pemilu. Namun sejujurnya, sampai saat ini aku masih belum bisa memantapkan pilihanku. Entah mengapa hal itu menjadi begitu sulit. Banyaknya partai membuat hatiku semakin tidak yakin untuk memilih. Hampir semua partai menjual janji yang serupa. Masyarakat pun membeli janji tersebut karena tak punya pilihan lain. Sebenarnya, partai politik bagaikan setan dengan game yang sama, dilingkaran neraka yang sama pula.

Satu hal yang tak dapat dipungkiri. Tahun depan saya diundang ke dalam pesta rakyat tersebut. Sejumlah kriteria ideal seperti anti korupsi, penegak HAM, pecinta lingkungan, anti kekerasan, dan lain sebagainya turut menghiasi daftar. Benar saja, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna sekalipun ia seorang calon presiden. Kalau boleh memilih dengan ikhlas, pasti aku akan menjadi abstain voter (Golongan putih). Akan tetapi, tentu saja itu bukanlah keputusan yang bijak. Kita memang merindukan seorang pemimpin yang tidak hanya sekedar mencari pengikut setia, tetapi justru dapat melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Kita merindukan pemimpin yang selalu mengisnpirasi. Kita juga merindukan pemimpin yang dapat membawa kita keluar dari lingkaran setan yang ada di negeri ini.

Menjadi golongan putih, bukan berarti tidak peduli. Mereka hanya terlalu ragu dengan negara ini. Akan tetapi, menjadi seorang golongan putih dan tidak melakukan apa pun merupakan hal yang lebih buruk dari pada tidak peduli. Karena seakan-seakan keraguan telah menjadi pemimpin baru dalam diri mereka.

Aku tahu, bahwa untuk mengubah negara ini bahkan dunia bukanlah hal yang mudah. Namun, kita bisa terus memuntut sesuatu yang tidak selalu dapat diharapkan. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Mengubah diri merupakan langkah awal untuk mengubah dunia. Aku berharap semua orang yang membaca tulisan ini tersadar dan terinspirasi. Siapa tahu seorang dari pembaca akan menjadi calon presiden diwaktu yang akan datang. Siapa tahu ia akan menjadi orang yang tidak hanya memantapkan hatiku untuk memilihnya tetapi juga membawa hati masyarakat Indonesia untuk bergerak maju bersamanya. Siapa yang tahu? Hanya Tuhan dan waktu yang akan menjawabnya


much love
Tiuruli Sitorus

Terinspirasi dari diskusi dengan Om Juwanto pada Kamis, 24 Januari 2013 

Minggu, 10 Februari 2013

Stagnan



Suara klakson berbunyi saling saut-sautan. Mesin-mesin kendaraan pun kian memanas. Bukan hanya mesin,  hati orang-orang ini pun mulai terbakar. Terdengar teriakan-teriakan supir, kenek, dan para pengguna jalan lainnya. Bukannya tak punya telinga melainkan telinga ini sudah cukup lelah untuk mendengar suara-suara itu.

Macet. Siapalah yang mau terkurung dalam keadaan stagnan dimana tak mungkin ada celah untuk bergerak ke kanan, ke kiri, ke belakang, apa lagi maju ke depan. Menyebalkan bukan? Semua orang tumpah di jalan. Saling meluapkan kekesalan dengan caranya masing-masing. Ada beberapa orang peduli dan mencoba membantu. Namun apa daya, suara mereka tenggelam diantara mesin kendaraan.

Sejenak keheningan memecah kegaduhan. Ia mengajak kita untuk merenung. Ia seakan menarik kita keluar dari semua sikap acuh selama ini. Unik bukan? Hanya dengan macet orang-orang dari berbagai latar belakang dan kepentingan berbeda yang selama ini saling tidak peduli seakan disatukan oleh sebuah kemacetan. Kemacetan juga seakan menghembusakan nafas dan membangunkan kita dari cara hidup instan, yang selama ini membuat kita lupa bagaimana caranya untuk bersabar.

Akan tetapi, sepertinya keadaan macet tidak selalu menyebalkan. Buktinya ada beberapa orang yang merasa nyaman dalam zona macet pada kehidupan. Hal ini terbukti karena ada beberapa orang yang stagnan dan tidak ada keinginan atau usaha untuk maju ke depan. Mereka  memiliki pemikiran yang tertutup sehingga tak punya kesempatan untuk menemukan jalan, untuk keluar dari kemacetan. Merasa nyaman di zona macet tidak akam membuat hidup kita menjadi lebih bermakna. Sama seperti macet di jalan, macet di kehidupan juga berarti menghambat dan membung-buang waktu. Maka, yang perlu kita lakukan adalah keluar dari comfort-zone dan menemukan cara untuk melanjutkan perjalanan.

Ya, hidup bukanlah sebuah balapan. Hidup adalah sebuah perjalanan atau petualangan yang harus dinikmati setiap langkahnya. Memang, tak seorang pun tahu jalan mana yang akan membawa kita kepada Tuhan. Namun, setiap orang punya otonomi untuk merencanakan petualangan dan menentukan tujuan akhir dalam hidpunya.


much love
Tiuruli Sitorus

Terinspirasi dari kemacetan yang cukup mengacaukan hariku pada  Sabtu, 9 Februari 2013.

Senin, 28 Januari 2013

Merpati dan Mawar Putih


"Terkadang angin tak pernah mampu menyampaikan rindu. Demikian pula dengan kata yang tak pernah bisa menyampaikan pembuktian cinta."
Hiduplah seekor merpati yang begitu mengasihi setangkai mawar putih. Sampai suatu hari sang merpati mengungkapkan perasaanya pada mawar putih.
"Aku begitu mengasihimu. Maukah engkau menjadi pendamping hidupku?", kata sang merpati. "Oh, maafkan aku. Namun, sepertinya aku tak akan pernah bisa mencintaimu.", jawab mawar putih.

Keesokan harinya merpati kembali singgah dan berkata, "Mawar putih aku mencintaimu." Lalu jawab sang mawar putih, "Aku sudah mengatakannya cukup jelas kemarin bahwa aku tak akan pernah mencintaimu."

 Hari demi hari terus berganti, membawa pesan yang masih belum terbalas. Jawaban-jawaban sang mawar putih cukup menyakitkan tentunya. Akan tetapi, hal itu tidak dapat mengikis rasa cinta merpati kepada mawar putih.

"Mawar putih, kaulah segalanya bagiku. Maka, akan kulakukan apa pun untuk membuatmu mencintaiku."
"Baiklah merpati. Aku akan mencintaimu ketika kau bisa mengubahku menjadi mawar merah."

Seketika merpati memotong sayapnya. Darah tercurah dari lengan merapati, mengubah mawar putih menjadi merah. Sontak, mawar putih begitu senang. Luluhlah hati sang mawar. Sekarang ia benar-benar sadar karena darah yang tercurah itu telah mengatakan betapa merpati mencintainya. Namun sayang beribu sayang, pesan-pesan itu terbalas ketika merpati telah tiada.
"Jelas tak ada cinta yang tak butuh pengorbanan dan tak ada perngorbanan yang tak butuh cinta"


much love
Tiuruli Sitorus 


Diceritakan dan terinspirasi dari seorang sahabat yang juga begitu aku kasihi.

Rabu, 02 Januari 2013

Bertanya pada Tuhan


Seorang bayi berkata kepada Tuhan, "Mereka berkata bahwa besok Engkau akan mengirim aku ke dunia, tetapi bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan kondisi yang sangat kecil dan tak berdaya?"

"Tenang saja, malaikatmu akan sabar menantimu dan akan merawatmu"

Anak itu kembali berkata, "Namun, bukannya di surga ini aku tidak perlu melakukan apa pun, hanya menyanyi dan tersenyum bahagia"

Tuhan berkata, "Malaikatmu akan menyanyi dan tersenyum untukmu dan kamu akan merasa begitu dikasihi dan juga bahagia"

Kembali anak itu berkata, "Dan lalu, bagaimana aku mampu untuk mengerti ketika orang berbicara kepadaku padahal aku tidak mengerti bahasa"

Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan mengatakan kata-kata terindah dan termanis yang akan pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, ia akan mengajarimu bagaimana cara berbicara.

"Dan apa yang harus aku lakukan ketika aku ingin berbicara denganMu, Tuhan?"

Tuhan kembali berkata, "Malaikatmu akan mengajarimu bagaimana caranya berdoa"

"Siapa yang akan melindungiku?"

Tuhan kembali menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu bahkan ketika itu berarti ia harus mempertaruhkan nyawanya."

"Namun, aku akan terus merasa sedih karena tidak dapat melihatMu lagi, Tuhan."

Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan selalu menceritakan tentang Aku kepadamu dan akan mengajarimu jalan kembali kepadaKu, walaupun sebenarnya Aku akan selalu ada disekitarmu."

Pada saat itu surga penuh dengan kedamaian dan suara di bumi pun mulai terdengar , sang anak dengan tergesa-gesa bertanya
"Tuhan, jika aku harus pergi sekarang tolong beritahu aku siapa malaikatku itu?"

"Kamu akan memanggilnya, Ibu"




much love
Tiuruli Sitorus

  

Teks asli :http://boardofwisdom.com/togo/Quotes/ShowQuote/?msgid=7991

Minggu, 16 Desember 2012

Dendam Untuk Dunia yang Tidak Pernah Memihakku



Aku tak tahu apa yang aku rasakan. Rasa ini adalah rasa sakit luar biasa. Namun, rasa ini lebih dari pada rasa sakit, yaitu rasa tidak diterima. Dunia tidak pernah memihakku bahkan sampai hari ini. Dendam telah menjadi bagian dari identitasku. Pagi ini, aku memandang ibuku dari kejauhan. Aku tak tahu mengapa, tetapi hatiku begitu marah. Tanpa akal ku ambil senjata milik ibu lalu kuarahkan kepadanya. Tiba-tiba sesuatu mendorong jari-jariku. Sesaat kemudian terdengar suara tembakan yang begitu mengejutkan. Lalu, aku menyadari bahwa ibuku telah bersimbah darah, terkulai lemas, dan hampir tak bernyawa. Pemandangan yang begitu menakutkan, tetapi entah mengapa hatiku begitu puas melihatnya.

Kukendarai mobilku sehingga melesat begitu cepat. Aku melaju menuju SD Sandy Hook tempat ibuku mengajar. Dendamku sudah melebihi akalku. Dari dulu aku begitu membenci sekolah. Aku merasa tidak pernah dihargai disana. Sekolah yang seharusnya sebagai tempatku menghidupkan semua bakatku malah membuatku mati setiap hari dengan olokkan dan penolakan-penolakan. Saat itu sekolah sudah dikunci dengan protokol keamanan. Namun, dengan otakku aku berhasil membuka protokol keamanan itu dan masuk ke ruang kepala sekolah. Aku melihat seorang lelaki penuh wibawa disitu. Kebencian mulai mengendalikanku. Kembali kuarahkan senapanku kepadanya. Namun, kali ini dengan sadar aku mendorong jari-jariku sehingga peluru melesat tepat kearah kepalanya. Tak ada rasa takut pada diriku, aku justru merasa bangga dapat melakukan hal itu.

Aku masuk ke beberapa ruang kelas. Beatapa hatiku kembali sedih, melihat anak-anak kecil yang begitu ceria. Aku iri, karena aku tak pernah mersakan kebahagiaan yang seperti itu. Kulepaskan peluru bagai angin yang bertiup kian kemari. Aku tak peduli, bagiku mereka bukan siapa-siapa, sama seperti mereka yang menganggapku bukan siapa-siapa. Kulihat sekelilingku, ada perasaan bahagia menyelimutiku ketika kulihat semua orang dalam kelas itu tewas. Aku merasa puas, karena itu berarti aku telah memutus kebahagiaan anak-anak tersebut, tentunya bukan hanya kebahagiaan mereka melainkan juga orang tua mereka. Aku ingin orang-orang merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan.

Aku mengamati beberapa guru yang mencoba untuk terlihat berani, walaupun aku tahu bahwa hati mereka sangatlah takut. Hatiku cukup teriris melihat seorang guru yang berhasil menyelamatkan seorang murid dari tembakkanku. Peluru itu hanya melesat didekatnya di selasar sebelum gurunya menariknya untuk berlindung. Aku juga melihat seorang guru yang berusaha menenangkan dirinya dan membawa murid-muridnya yang berusia sekitar 6-7 tahun untuk bersembunyi ke toilet. Betapa guru itu mengasihi murid-muridnya dan aku pun menyadari bahwa aku tak pernah merasakan kasih yang seperti itu. Aku mendengar beberapa murid mulai menangis, tetapi sang guru berusaha menenangkan mereka dan berkata "Semua akan baik-baik saja". Seakan-akan sang guru itu ingin kata-katanyalah yang terakhir mereka dengar bukan suara senapan. Kata-kata sang guru yang begitu menenangkan menusuk jauh ke dalam hatiku. Sedih rasanya mengingat tak pernah ada orang yang berkata demikian kepadaku. Biasanya orang-orang hanya mampu melemparkan rasa kesal dan kata-kata ocehan kepadaku. Maka, jangan salahkan aku ketika aku hanya bisa membalas semua itu dengan rasa kesal dan dendam.

Sesaat aku terduduk lemas. Aku merenungi hidup yang tak pernah memihakku sekalipun. Tiba-tiba aku melihat ibu berdiri disampingku. Terbesit rasa rindu yang mendalam. Lalu, ia memelukku begitu hangat. Belum pernah aku merasa sedamai ini. Aku medengar suara senapan begitu dekat dengan jantungku. Tubuhku pun terasa ringan, ringan dan semakin ringan.


much love
Tiuruli Sitorus

Teinspirasi dari kasus penembakan brutal di SD Sandy Hook, Newtown, Negara Bagian Connecticut, Jumat (14/12) pagi waktu setempat.