Kamis, 25 April 2013

Mau Dibawa Kemana Ujian Nasional?

 Sumber gambar: Koran FB

Saat menulis tulisan ini,  muncul wajah cemas menghiasi jutaan siswa kelas XII SMA dan IX SMP di seluruh Indonesia. Pertanyaan besar turut meresahkan hati. Akankah perjuangan mereka untuk ujian nasional tidak akan sia-sia? atau memang seharusnya ujian nasional ditiadakan?

Berangkat dari kecurigaan pemerintah terhadap para siswa. Ujian nasional yang ada dengan berbagai macam variasi soal, menujukan secara terang-terangan bahwa pemerintah menganggap semua siswa adalah maling. 'Maling teriak maling'. Statement tersebut yang pantas diberikan kepada pemerintah. Tidak berlebihan jika kita menyebut pemerintah juga adalah maling. Hal ini terbukti dengan banyaknya korupsi di negeri ini. Jika pemerintah tidak dapat memercayai siswa-siswinya, bagaimana  siswa-siswi tersebut dapat dipercaya untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

Selain itu terdapat sebuah paradoks. Pemerintah memaksa untuk menyelenggarakan ujian nasional di setiap daerah di Indonesia, padahal pemerintah sendiri belum mampu menyediakan pendidikan yang merata secara nasional di seluruh pelosok negeri ini. Aneh bukan? Pemerintah ingin ujian yang berstandar tetapi belum mampu menyediakan pendidikan yang standar pula.

Belum lagi ujian nasional memberi dampak secara psikis baik kepada siswa, guru, orang tua dan masyarakat. Saat negara memaksa ujian nasional untuk diimplementasikan sebenarnya pemerintah sedang melakukan kekerasan secara psikis. Mengapa demikian? Karena banyak siswa yang merasa terbeban dengan adanya ujian nasional, terlebih bagi mereka yang berada di daerah yang pendidikannya terbelakang. Bukan hanya terbeban karena materi yang dipelajari, melainkan juga rasa takut akan lembar jawab komputer yang disediakan. Ujian nasional telah menghilangkan esensi dari pendidikan. Karena para murid hanya semata-mata mengejar nilai dari pada ilmu. Terbuka peluang dimana para siswa akan menghalalkan segala cara untuk medapatkan nilai yang membanggakan. Ini adalah mindset yang perlu diubah. Seharusnya ilmu diletakkan jauh diatas nilai. Karena nilai hanyalah sebuah angka. 

Rasa takut juga menyelimuti para guru dan orang tua. Tidak heran jika terdapat beberapa kasus dimana siswa terlihat jelas menyontek tetapi pengawas hanya diam dan membiarkan hal itu terjadi. Karena ujian nasional berpengaruh besar pada kelulusan dan kelulusan sejalan pengaruhnya dengan image sekolah. Guru yang membiarkan kasus tersebut terjadi sebenarnya hanya ingin menyelamatkan siswa dan nama baik sekolah. Namun, kita sepakat bahwa itu bukanlah cara yang benar. Secara tidak langsung ujian nasional turut membentuk karakter bangsa ini. Sayangnya, karakter yang terbentuk adalah karakter penakut, pencuri, pembohong, dan tidak percaya diri.  
"Bagaimana kita yang tidak seragam ini dipaksa untuk diseragamkan"
Jika dipahami secara bijak, sebenarnya ujian nasional bukanlah indikator yang tepat untuk mengukur kemampuan siswa. Terdapat sebuah analogi yang dapat menggambarkan kondisi ini. Hal ini sama ketika terdapat sebuah kompetisi memanjat. Kompetisi tersebut diikuti oleh monyet, gajah, ikan, burung, dan harimau. Dapat dipastikan bahwa kompetisi memanjat bukan indikator yang pas untuk mengukur kemampuan dari masing-masing hewan tersebut karena masing-masing hewan memiliki kemampuannya yang berbeda-beda. Bagaimana kita yang tidak seragam ini dipaksa untuk seragam. Bagaimana mungkin siswa-siswi yang mempunyai talenta yang berbeda dipaksa untuk mengaplikasikanya dengan cara yang sama. Jelas, ini bukanlah bentuk dari sebuah keadilan.  Kecerdasan yang dimiliki setiap siswa adalah unik. Seharusnya kecerdasan itu dapat dikembangkan dengan cara yang unik pula.

Tujuan pendidikan nasional secara jelas tepampang dalam UUD 1945. "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa" Apakah Ujian nasional dapat dijadikan patokan untuk mencapai tujuan tersebut? Jawabannya tidak. Selain karena alasan-alasan yang telah diuraikan diatas, sebenarnya pemerintah juga belum mampu untuk menyelenggarakan ujian nasional. Hal ini terbukti dengan kacaunya ujian nasional 2013. Mulai dari soal dan lembar  yang kurang, kode yang tertukar hingga penundaan penyelengaraan ujian nasional di 11 provinsi di Indonesia. Ketika ujian nasional diselenggarakan tidak secara bersamaan di seluruh negeri, apakah masih bisa disebut dengan ujian nasional? Sepertinya lebih baik kita menyebutnya dengan ujian daerah.    Sebaiknya pula bila ujian nasional ditiadakan. Tahun ini dana yang dikucurkan untuk ujian nasional sekitar 500 M. Bisa dibayangkan berapa banyak anak yang bisa mendapat beasiswa. Berapa banyak sekolah yang dapat dibangun. Berapa banyak fasilitas yang dapat diberikan untuk menunjang pendidikan yang lebih berkualitas. Yang jelas jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit.

Menyedihkan, Sistem pendidikan di negeri ini hanya disusun berdasarkan idealisme dan mengabaikan realitas yang ada. Pertanyaan yang tepat selanjutnya bukan hanya "Mau dibawa kemana Ujian Nasional?", melainkan ""Mau dibawa kemana para generasi  penerus sekarang ini?



much love
Tiuruli Sitorus


Terinspirasi dari diskusi dengan Om Juwanto dan sahabat-sahabatku di YEC, Kamis 25 April 2013

Rabu, 13 Februari 2013

Golongan Putih di Pesta Rakyat



Bukannya aku tidak peduli, melainkan aku sudah mulai jenuh dengan pemberitaan-pemberitaan yang ada. Korupsi dan kemiskinan terus menjadi artis dipanggung negeri ini. Diskriminasi ras dan agama juga membuatku semakin tidak mengerti. Walaupun demikian, pesta rakyat yang akan diadakan 2014 mendatang tetaplah milik kita. Semua warga negara Indonesia pun berhak untuk terlibat dalam perayaan tersebut. 

Sepuluh partai telah terdaftar sebagai peserta pemilu. Namun sejujurnya, sampai saat ini aku masih belum bisa memantapkan pilihanku. Entah mengapa hal itu menjadi begitu sulit. Banyaknya partai membuat hatiku semakin tidak yakin untuk memilih. Hampir semua partai menjual janji yang serupa. Masyarakat pun membeli janji tersebut karena tak punya pilihan lain. Sebenarnya, partai politik bagaikan setan dengan game yang sama, dilingkaran neraka yang sama pula.

Satu hal yang tak dapat dipungkiri. Tahun depan saya diundang ke dalam pesta rakyat tersebut. Sejumlah kriteria ideal seperti anti korupsi, penegak HAM, pecinta lingkungan, anti kekerasan, dan lain sebagainya turut menghiasi daftar. Benar saja, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna sekalipun ia seorang calon presiden. Kalau boleh memilih dengan ikhlas, pasti aku akan menjadi abstain voter (Golongan putih). Akan tetapi, tentu saja itu bukanlah keputusan yang bijak. Kita memang merindukan seorang pemimpin yang tidak hanya sekedar mencari pengikut setia, tetapi justru dapat melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Kita merindukan pemimpin yang selalu mengisnpirasi. Kita juga merindukan pemimpin yang dapat membawa kita keluar dari lingkaran setan yang ada di negeri ini.

Menjadi golongan putih, bukan berarti tidak peduli. Mereka hanya terlalu ragu dengan negara ini. Akan tetapi, menjadi seorang golongan putih dan tidak melakukan apa pun merupakan hal yang lebih buruk dari pada tidak peduli. Karena seakan-seakan keraguan telah menjadi pemimpin baru dalam diri mereka.

Aku tahu, bahwa untuk mengubah negara ini bahkan dunia bukanlah hal yang mudah. Namun, kita bisa terus memuntut sesuatu yang tidak selalu dapat diharapkan. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Mengubah diri merupakan langkah awal untuk mengubah dunia. Aku berharap semua orang yang membaca tulisan ini tersadar dan terinspirasi. Siapa tahu seorang dari pembaca akan menjadi calon presiden diwaktu yang akan datang. Siapa tahu ia akan menjadi orang yang tidak hanya memantapkan hatiku untuk memilihnya tetapi juga membawa hati masyarakat Indonesia untuk bergerak maju bersamanya. Siapa yang tahu? Hanya Tuhan dan waktu yang akan menjawabnya


much love
Tiuruli Sitorus

Terinspirasi dari diskusi dengan Om Juwanto pada Kamis, 24 Januari 2013 

Minggu, 10 Februari 2013

Stagnan



Suara klakson berbunyi saling saut-sautan. Mesin-mesin kendaraan pun kian memanas. Bukan hanya mesin,  hati orang-orang ini pun mulai terbakar. Terdengar teriakan-teriakan supir, kenek, dan para pengguna jalan lainnya. Bukannya tak punya telinga melainkan telinga ini sudah cukup lelah untuk mendengar suara-suara itu.

Macet. Siapalah yang mau terkurung dalam keadaan stagnan dimana tak mungkin ada celah untuk bergerak ke kanan, ke kiri, ke belakang, apa lagi maju ke depan. Menyebalkan bukan? Semua orang tumpah di jalan. Saling meluapkan kekesalan dengan caranya masing-masing. Ada beberapa orang peduli dan mencoba membantu. Namun apa daya, suara mereka tenggelam diantara mesin kendaraan.

Sejenak keheningan memecah kegaduhan. Ia mengajak kita untuk merenung. Ia seakan menarik kita keluar dari semua sikap acuh selama ini. Unik bukan? Hanya dengan macet orang-orang dari berbagai latar belakang dan kepentingan berbeda yang selama ini saling tidak peduli seakan disatukan oleh sebuah kemacetan. Kemacetan juga seakan menghembusakan nafas dan membangunkan kita dari cara hidup instan, yang selama ini membuat kita lupa bagaimana caranya untuk bersabar.

Akan tetapi, sepertinya keadaan macet tidak selalu menyebalkan. Buktinya ada beberapa orang yang merasa nyaman dalam zona macet pada kehidupan. Hal ini terbukti karena ada beberapa orang yang stagnan dan tidak ada keinginan atau usaha untuk maju ke depan. Mereka  memiliki pemikiran yang tertutup sehingga tak punya kesempatan untuk menemukan jalan, untuk keluar dari kemacetan. Merasa nyaman di zona macet tidak akam membuat hidup kita menjadi lebih bermakna. Sama seperti macet di jalan, macet di kehidupan juga berarti menghambat dan membung-buang waktu. Maka, yang perlu kita lakukan adalah keluar dari comfort-zone dan menemukan cara untuk melanjutkan perjalanan.

Ya, hidup bukanlah sebuah balapan. Hidup adalah sebuah perjalanan atau petualangan yang harus dinikmati setiap langkahnya. Memang, tak seorang pun tahu jalan mana yang akan membawa kita kepada Tuhan. Namun, setiap orang punya otonomi untuk merencanakan petualangan dan menentukan tujuan akhir dalam hidpunya.


much love
Tiuruli Sitorus

Terinspirasi dari kemacetan yang cukup mengacaukan hariku pada  Sabtu, 9 Februari 2013.

Senin, 28 Januari 2013

Merpati dan Mawar Putih


"Terkadang angin tak pernah mampu menyampaikan rindu. Demikian pula dengan kata yang tak pernah bisa menyampaikan pembuktian cinta."
Hiduplah seekor merpati yang begitu mengasihi setangkai mawar putih. Sampai suatu hari sang merpati mengungkapkan perasaanya pada mawar putih.
"Aku begitu mengasihimu. Maukah engkau menjadi pendamping hidupku?", kata sang merpati. "Oh, maafkan aku. Namun, sepertinya aku tak akan pernah bisa mencintaimu.", jawab mawar putih.

Keesokan harinya merpati kembali singgah dan berkata, "Mawar putih aku mencintaimu." Lalu jawab sang mawar putih, "Aku sudah mengatakannya cukup jelas kemarin bahwa aku tak akan pernah mencintaimu."

 Hari demi hari terus berganti, membawa pesan yang masih belum terbalas. Jawaban-jawaban sang mawar putih cukup menyakitkan tentunya. Akan tetapi, hal itu tidak dapat mengikis rasa cinta merpati kepada mawar putih.

"Mawar putih, kaulah segalanya bagiku. Maka, akan kulakukan apa pun untuk membuatmu mencintaiku."
"Baiklah merpati. Aku akan mencintaimu ketika kau bisa mengubahku menjadi mawar merah."

Seketika merpati memotong sayapnya. Darah tercurah dari lengan merapati, mengubah mawar putih menjadi merah. Sontak, mawar putih begitu senang. Luluhlah hati sang mawar. Sekarang ia benar-benar sadar karena darah yang tercurah itu telah mengatakan betapa merpati mencintainya. Namun sayang beribu sayang, pesan-pesan itu terbalas ketika merpati telah tiada.
"Jelas tak ada cinta yang tak butuh pengorbanan dan tak ada perngorbanan yang tak butuh cinta"


much love
Tiuruli Sitorus 


Diceritakan dan terinspirasi dari seorang sahabat yang juga begitu aku kasihi.

Rabu, 02 Januari 2013

Bertanya pada Tuhan


Seorang bayi berkata kepada Tuhan, "Mereka berkata bahwa besok Engkau akan mengirim aku ke dunia, tetapi bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan kondisi yang sangat kecil dan tak berdaya?"

"Tenang saja, malaikatmu akan sabar menantimu dan akan merawatmu"

Anak itu kembali berkata, "Namun, bukannya di surga ini aku tidak perlu melakukan apa pun, hanya menyanyi dan tersenyum bahagia"

Tuhan berkata, "Malaikatmu akan menyanyi dan tersenyum untukmu dan kamu akan merasa begitu dikasihi dan juga bahagia"

Kembali anak itu berkata, "Dan lalu, bagaimana aku mampu untuk mengerti ketika orang berbicara kepadaku padahal aku tidak mengerti bahasa"

Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan mengatakan kata-kata terindah dan termanis yang akan pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, ia akan mengajarimu bagaimana cara berbicara.

"Dan apa yang harus aku lakukan ketika aku ingin berbicara denganMu, Tuhan?"

Tuhan kembali berkata, "Malaikatmu akan mengajarimu bagaimana caranya berdoa"

"Siapa yang akan melindungiku?"

Tuhan kembali menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu bahkan ketika itu berarti ia harus mempertaruhkan nyawanya."

"Namun, aku akan terus merasa sedih karena tidak dapat melihatMu lagi, Tuhan."

Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan selalu menceritakan tentang Aku kepadamu dan akan mengajarimu jalan kembali kepadaKu, walaupun sebenarnya Aku akan selalu ada disekitarmu."

Pada saat itu surga penuh dengan kedamaian dan suara di bumi pun mulai terdengar , sang anak dengan tergesa-gesa bertanya
"Tuhan, jika aku harus pergi sekarang tolong beritahu aku siapa malaikatku itu?"

"Kamu akan memanggilnya, Ibu"




much love
Tiuruli Sitorus

  

Teks asli :http://boardofwisdom.com/togo/Quotes/ShowQuote/?msgid=7991

Minggu, 16 Desember 2012

Dendam Untuk Dunia yang Tidak Pernah Memihakku



Aku tak tahu apa yang aku rasakan. Rasa ini adalah rasa sakit luar biasa. Namun, rasa ini lebih dari pada rasa sakit, yaitu rasa tidak diterima. Dunia tidak pernah memihakku bahkan sampai hari ini. Dendam telah menjadi bagian dari identitasku. Pagi ini, aku memandang ibuku dari kejauhan. Aku tak tahu mengapa, tetapi hatiku begitu marah. Tanpa akal ku ambil senjata milik ibu lalu kuarahkan kepadanya. Tiba-tiba sesuatu mendorong jari-jariku. Sesaat kemudian terdengar suara tembakan yang begitu mengejutkan. Lalu, aku menyadari bahwa ibuku telah bersimbah darah, terkulai lemas, dan hampir tak bernyawa. Pemandangan yang begitu menakutkan, tetapi entah mengapa hatiku begitu puas melihatnya.

Kukendarai mobilku sehingga melesat begitu cepat. Aku melaju menuju SD Sandy Hook tempat ibuku mengajar. Dendamku sudah melebihi akalku. Dari dulu aku begitu membenci sekolah. Aku merasa tidak pernah dihargai disana. Sekolah yang seharusnya sebagai tempatku menghidupkan semua bakatku malah membuatku mati setiap hari dengan olokkan dan penolakan-penolakan. Saat itu sekolah sudah dikunci dengan protokol keamanan. Namun, dengan otakku aku berhasil membuka protokol keamanan itu dan masuk ke ruang kepala sekolah. Aku melihat seorang lelaki penuh wibawa disitu. Kebencian mulai mengendalikanku. Kembali kuarahkan senapanku kepadanya. Namun, kali ini dengan sadar aku mendorong jari-jariku sehingga peluru melesat tepat kearah kepalanya. Tak ada rasa takut pada diriku, aku justru merasa bangga dapat melakukan hal itu.

Aku masuk ke beberapa ruang kelas. Beatapa hatiku kembali sedih, melihat anak-anak kecil yang begitu ceria. Aku iri, karena aku tak pernah mersakan kebahagiaan yang seperti itu. Kulepaskan peluru bagai angin yang bertiup kian kemari. Aku tak peduli, bagiku mereka bukan siapa-siapa, sama seperti mereka yang menganggapku bukan siapa-siapa. Kulihat sekelilingku, ada perasaan bahagia menyelimutiku ketika kulihat semua orang dalam kelas itu tewas. Aku merasa puas, karena itu berarti aku telah memutus kebahagiaan anak-anak tersebut, tentunya bukan hanya kebahagiaan mereka melainkan juga orang tua mereka. Aku ingin orang-orang merasakan semua rasa sakit yang aku rasakan.

Aku mengamati beberapa guru yang mencoba untuk terlihat berani, walaupun aku tahu bahwa hati mereka sangatlah takut. Hatiku cukup teriris melihat seorang guru yang berhasil menyelamatkan seorang murid dari tembakkanku. Peluru itu hanya melesat didekatnya di selasar sebelum gurunya menariknya untuk berlindung. Aku juga melihat seorang guru yang berusaha menenangkan dirinya dan membawa murid-muridnya yang berusia sekitar 6-7 tahun untuk bersembunyi ke toilet. Betapa guru itu mengasihi murid-muridnya dan aku pun menyadari bahwa aku tak pernah merasakan kasih yang seperti itu. Aku mendengar beberapa murid mulai menangis, tetapi sang guru berusaha menenangkan mereka dan berkata "Semua akan baik-baik saja". Seakan-akan sang guru itu ingin kata-katanyalah yang terakhir mereka dengar bukan suara senapan. Kata-kata sang guru yang begitu menenangkan menusuk jauh ke dalam hatiku. Sedih rasanya mengingat tak pernah ada orang yang berkata demikian kepadaku. Biasanya orang-orang hanya mampu melemparkan rasa kesal dan kata-kata ocehan kepadaku. Maka, jangan salahkan aku ketika aku hanya bisa membalas semua itu dengan rasa kesal dan dendam.

Sesaat aku terduduk lemas. Aku merenungi hidup yang tak pernah memihakku sekalipun. Tiba-tiba aku melihat ibu berdiri disampingku. Terbesit rasa rindu yang mendalam. Lalu, ia memelukku begitu hangat. Belum pernah aku merasa sedamai ini. Aku medengar suara senapan begitu dekat dengan jantungku. Tubuhku pun terasa ringan, ringan dan semakin ringan.


much love
Tiuruli Sitorus

Teinspirasi dari kasus penembakan brutal di SD Sandy Hook, Newtown, Negara Bagian Connecticut, Jumat (14/12) pagi waktu setempat.

Selasa, 11 Desember 2012

Marry Me?


Sekolah dan pernikahan memiliki persamaan. Namun, yang berbeda adalah seseorang akan berhenti belajar di sekolah ketika medapat ijazah. Sedangkan menikah berarti belajar untuk seumur hidup. Pernikahan itu juga seperti roller-coaster, ada saatnya kita ada dalam kondisi yang sangat curam dan mendebarkan tetapi percayalah bahwa kita akan menikmati setiap jeritan yang ada.

Walaupun saya masih 16 tahun dan pastinya juga belum pernah menikah tetapi saya adalah salah satu produk dari pernikahan bukan? Di Indonesia menikah merupakan sebuah budaya yang harus dilakukan saat seseorang dianggap cukup dewasa.  Sebenarnya kalau kita berbicara tentang pernikahan berarti kita bukan hanya berbicara tentang dua orang yang saling mengikrarkan janji melainkan kita juga akan berbicara tentang keluarga. Pernikahan akan menjadi wadah bagi setiap pribadi untuk mengembangkan dirinya.



Yang menyedihkan, mungkin ada beberapa orang menganggap bahwa pernikahan itu hanya sekedar melegalkan seks.  Salah satu bukti dari makna pernikahan yang dianggap sepele adalah banyaknya kasus nikah siri. Persoalan nikah siri di Indonesia kini semakin banyak jadi bahan perbincangan. Terlebih setelah ributnya skandal Bupati Garut Aceng HM Fikri yang menikah siri secara singkat dengan Fany Octora (18), dan benar-benar membuka mata semua pejabat publik. Kata 'siri' berarti rahasia. Dalam pernikahan itu tidak ada jaminan hukum antara hak dan kewajiban suami-istri karena tidak ada pencatatan resmi menurut undang-undang. Disisi lain bisa dikatakan bahwa perempuan adalah pihak yang dirugikan, sang suami pun dapat menceraikan sang istri secara semena-mena, contoh saja Bupati Garut Aceng yang menceraikan istrinya tersebut melalui sms. Walaupun ada agama yang melegalkan nikah siri, kita harus minilik kembali tujuan dari sebuah pernikahan.



Seperti yang sudah saya katakan diatas bahwa pernikahan akan menjadi wadah bagi setiap pribadi untuk mengembangkan diri. Anak adalah fokus dari poin ini. Saat seorang anak tidak pernah menerima perlakuan baik dari orang tuanya, maka anak tersebut nantinya juga tidak akan pernah menjadi orang tua yang baik. Saat seorang anak tinggal dalam keluarga yang tidak harmonis maka keadaan jiwa dan mental sang anak itu pun dapat terganggu. Keluarga yang seharusnya menjadi pondasi bagi sang anak untuk berkembang malah justru mengacaukan pribadinya. Hal yang juga tak kalah penting adalah status sang anak dalam masyarakat. Saat anak tidak dapat mengenal dirinya bagaimana masyrakat akan mengenalnya? Inilah pentingnya pernikahan yang sah, sehingga anak dapat diakui dalam masyarakat



"Don't wait for the one you can live with, wait for the one you can't live without"
"There are million people in this world but my heart still catch you"  
Kita semua tahu dan percaya bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Namun uniknya, pernikahan adalah invisible thread yang menyatukan dua orang yang tidak sempurna untuk saling menyempurnakan. Sungguh manis bukan? Akan tetapi jika kita ingat kembali kita sedang tidak berada dalam ideal life. Seringkali apa yang kini nyata jauh dari apa yang didamba. Namun, hal tesebut tidak dapat dijadikan alasan untuk terus menyalahkan keadaan yang ada. Pernikahan itu bukan hal sepele. Semuanya harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut dibutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Banyak orang yang berpikir bahwa pernikahan berarti membangun rumah tangga dan masa pacaran adalah masa penjajakan. Jika demikian, kapan masanya orang-orang masuk ke dalam rumah tangga tersebut jika mereka terus-menerus sedang membangun? Seharusnya, Pernikahan bukan lagi masa membangun melainkan masuk dan tinggal di dalamnya.

Masa sebelum pernikahanlah masa yang tepat untuk membangun. Membangun pondasi yang kuat dari dalam diri sendiri sebelum akhirnya menjadi strong partner bersama orang lain. Ketika saatnya tiba, dan semuanya sudah siap, barulah ambil keputusan yang tepat untuk menikah. Dengan demikian, tidak akan kata menyesal diakhir cerita sekalipun cerita tersebut berjalan dengan tidak mulus dan penuh rintangan.


"Marriage lets you annoy one special person for the rest of your life."
Menikah merupakan sebuah pilihan hidup dan setiap pilihan mengandung konsekuensi. Sekali lagi jodoh itu dipilih bukan dilotre. Maka, pilihlah orang dan waktu yang tepat untuk menemanimu dalam sisa hidupmu.



much love:
Tiuruli Sitorus